Banner utama

Flayer Informasi
Foto 1
Foto 1
Foto 2
items



Kirim

Mimika Perkuat Strategi Pencegahan Stunting: Fokus pada Kesehatan Remaja Putri dan Deteksi Dini



MIMIKA – Pemerintah Kabupaten Mimika terus mengintensifkan upaya percepatan penurunan stunting melalui transformasi paradigma penanganan, dari yang sebelumnya bersifat kuratif (pengobatan) menjadi preventif (pencegahan dini) yang aktif. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Advokasi Bangga Kencana Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang diselenggarakan oleh DP3AP2KB Kabupaten Mimika, Jumat (12/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Seksi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Hasma, menekankan pentingnya intervensi kesehatan sejak fase remaja putri. Menurutnya, pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum masa kehamilan.
Investasi Kesehatan melalui Tablet Tambah Darah (TTD)

Hasma menyoroti kerentanan remaja putri usia 12–18 tahun terhadap anemia. Gaya hidup seperti kebiasaan begadang, pola makan tidak seimbang, serta siklus menstruasi bulanan menjadi faktor risiko utama.

"Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bukan sekadar intervensi jangka pendek, melainkan langkah strategis untuk memutus mata rantai stunting. Remaja putri yang sehat hari ini adalah calon ibu yang bebas risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia di masa depan," ujar Hasma.

Ia mengimbau masyarakat untuk mengikuti protokol konsumsi TTD dengan benar:

· Dosis: Satu tablet per minggu pada hari yang sama.

· Waktu: Dikonsumsi setelah makan untuk meminimalisir efek mual atau pusing.

· Dukungan: Orang tua diminta aktif memotivasi remaja putri agar konsisten mengonsumsi TTD, baik yang diperoleh dari sekolah maupun Puskesmas.
Transformasi Penanganan: Deteksi Dini di Tingkat Kampung


Terkait strategi intervensi stunting, Dinas Kesehatan Mimika menegaskan kebijakan baru di tahun 2026, di mana seluruh kampung ditetapkan sebagai lokus stunting. Pendekatan ini bertujuan agar jangkauan pelayanan lebih merata dan inklusif.

Hasma menekankan indikator kewaspadaan dini yang wajib diperhatikan oleh petugas kesehatan dan kader di lapangan:

1. Berat badan tidak naik dua kali berturut-turut.

2. Ketidaksesuaian berat/tinggi badan dengan usia anak.

3. Segera melakukan rujukan ke dokter jika ditemukan gejala fisik yang tidak sesuai standar pertumbuhan.
Validitas Data dan Akuntabilitas Lokal

Diskusi juga menyoroti pentingnya validitas data melalui cakupan penimbangan yang luas. Hasma menjelaskan bahwa tingginya angka kasus di beberapa distrik, seperti Distrik Wania, justru mencerminkan keaktifan sistem surveilans dan pelacakan kasus (case finding) yang dilakukan petugas Puskesmas.

"Cakupan penimbangan yang rendah justru harus dikritisi. Jangan sampai kasus terlihat sedikit karena memang tidak ditemukan, bukan karena benar-benar tidak ada," tambahnya.

Sebagai langkah tindak lanjut, Pemerintah Kabupaten Mimika kini mengintegrasikan status gizi warga sebagai indikator kinerja utama bagi para pemangku kepentingan, mulai dari tingkat distrik hingga kepala kampung. Sinergi lintas sektor antara Puskesmas, Posyandu, dan perangkat desa menjadi kunci utama agar setiap balita mendapatkan penanganan tepat waktu sebelum mencapai kondisi stunting kronis.

Pemerintah Kabupaten Mimika optimistis, dengan kolaborasi yang solid dan keterlibatan aktif otoritas lokal, upaya menuju Zero Stunting dapat dicapai demi menciptakan generasi masa depan yang lebih sehat dan berdaya saing.

Iklan

Info Dinkes Mimika