TIMIKA – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus melakukan akselerasi strategis demi mewujudkan target Eliminasi Malaria 2030. Menjawab tantangan akses layanan kesehatan masyarakat di luar jam operasional puskesmas, Dinkes Mimika meluncurkan inovasi layanan pemeriksaan dan pengobatan malaria gratis yang akan berkolaborasi dengan 10 klinik swasta terpilih.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Mimika, Linus Dumatubun, menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari evaluasi kebutuhan masyarakat yang kerap memuncak di sore hingga malam hari.
Menjawab Tantangan Waktu dan Akses
Selama ini, layanan malaria di puskesmas umumnya terbatas hingga siang hari. "Kolaborasi dengan 10 klinik ini adalah solusi agar masyarakat memiliki opsi layanan yang lebih fleksibel. Mulai dari pemeriksaan darah hingga pemberian obat, semuanya gratis ditanggung pemerintah," ujar Linus saat ditemui di Kelurahan Kamoro Jaya, Distrik Wania, Jumat (22/5/2026).
Untuk mempermudah akses informasi, Dinkes Mimika akan memasang spanduk khusus di setiap klinik yang bermitra. Masyarakat diimbau untuk tidak ragu datang ke lokasi yang telah ditandai tersebut, karena stok logistik—baik alat tes cepat (RDT) maupun obat-obatan—telah dipersiapkan secara melimpah dengan target cakupan hingga 2 juta tes sepanjang tahun 2026.
Inovasi Digital: Mengawal Kepatuhan Pasien
Salah satu hambatan terbesar dalam eliminasi malaria adalah kasus Malaria Tersiana yang sering kambuh akibat pasien tidak tuntas atau tidak tertib mengonsumsi obat.
Menjawab persoalan ini, Dinkes Mimika tengah mengembangkan aplikasi pengawasan minum obat berbasis digital. Melalui sistem ini, setiap pasien akan dipantau secara real-time oleh kader kesehatan di lapangan. Aplikasi tersebut akan mencatat kepatuhan minum obat, distribusi logistik, hingga masa kedaluwarsa obat, sehingga risiko kegagalan pengobatan dapat ditekan seminimal mungkin.
Kolaborasi Lintas Sektor sebagai "Harga Mati"
Meski layanan medis terus diperkuat, Linus menekankan bahwa aspek klinis harus berjalan beriringan dengan perbaikan lingkungan.
"Malaria ini kuncinya dua: pengawasan minum obat dan pengendalian lingkungan. Kami sangat membutuhkan komitmen dari Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Lingkungan Hidup untuk menuntaskan masalah parit serta saluran air yang tersumbat. Kolaborasi lintas sektor adalah harga mati demi Mimika Bebas Malaria 2030," tegasnya.
Aksi Masif: Tes Door-to-Door dan Cek Kesehatan Gratis
Sebelumnya, dalam rangka menyambut Hari Malaria Sedunia, Dinkes Mimika telah menerjunkan 20 tim untuk melakukan pemeriksaan door-to-door di Kelurahan Kamoro Jaya, Distrik Wania—wilayah dengan angka kasus tertinggi saat ini.
Dalam aksi masif ini, Dinkes menerapkan sistem Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang terintegrasi. Masyarakat yang memeriksakan diri tidak hanya mendapatkan tes malaria, tetapi juga pengecekan kesehatan menyeluruh meliputi gula darah, kadar eritrosit, hepatitis, hingga asam urat.
Keberhasilan program ini tak lepas dari dukungan kolaboratif 15–16 perusahaan mitra, seperti PT Freeport Indonesia, Bank Papua, Bank BRI, Petrosea, dan Perdaki. "Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan sektor swasta ini menjadi bahan bakar utama bagi kami untuk terus bergerak mencapai target 2.076.000 tes malaria di tahun 2026," tutup Linus.
Dengan sinergi antara teknologi digital, perluasan jejaring klinik, serta keterlibatan lintas sektor, Kabupaten Mimika kini semakin mantap melangkah menuju status eliminasi malaria demi kesehatan seluruh lapisan masyarakat.



