items



Kirim

Menjaga Anak Alfa Mimika: Ketika Layar Gawai dan Piring Makan Bertemu di Garis Depan Stunting




Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Kabupaten Mimika membawa pesan mendasar bagi kita para orang tua dan pendidik: tantangan membesarkan anak hari ini telah bergeser secara drastis. Ketika Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika mengumpulkan 120 pemangku kepentingan—mulai dari guru, kader Posyandu, pengurus PKK, hingga petugas Puskesmas—fokus utamanya tidak lagi sekadar membagikan biskuit MPasi atau memberikan imunisasi rutin. Ada benang merah baru yang ditarik antara layar gawai (smartphone) dan risiko stunting pada anak.

Langkah Dinkes Mimika menggelar workshop pengasuhan di era digital ini merupakan terobosan pemikiran yang patut diapresiasi. Selama ini, isu stunting kerap disederhanakan sebatas persoalan kemiskinan atau akses pangan gizi seimbang. Padahal, di era Generasi Alfa, pola asuh digital memegang peranan kunci yang sering kali luput dari perhatian.

Bagaimana gawai bisa memicu stunting? Jawabannya ada pada perilaku sehari-hari yang merayap halus ke dalam rumah tangga kita. Ketika anak dibiasakan makan sambil menonton tayangan di gawai agar "penurut", refleks mengunyah mereka menjadi mekanis tanpa kesadaran gizi (mindful eating). Anak kerap menolak makanan bergizi tinggi yang butuh usaha mengunyah—seperti daging atau sayuran—dan lebih memilih makanan instan yang mudah ditelan sambil mata terpaku pada layar.

Belum lagi dampak lanjutan: berkurangnya aktivitas fisik di luar ruangan, jam tidur yang terganggu akibat blue light gawai, hingga gangguan interaksi emosional dengan orang tua. Kombinasi ini merusak kualitas penyerapan gizi dan metabolisme tumbuh kembang anak secara berlanjut. Stunting akhirnya bukan cuma masalah "apa yang ada di piring", tetapi "bagaimana suasana dan interaksi saat piring itu disajikan".

Menghadapi kenyataan ini, penegasan Plt. Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Godfried Maturbongs, menemukan relevansinya. Keluarga tidak bisa dibiarkan bertarung sendirian melawan gempuran algoritma digital. Sinergi lintas sektor—antara Puskesmas yang memantau tumbuh kembang fisik, sekolah yang membentuk karakter harian, dan kader Posyandu/PKK yang bersentuhan langsung dengan dapur warga—adalah benteng pertahanan terbaik.

Namun, sebagaimana disinggung dalam kegiatan tersebut, ukuran keberhasilan agenda ini tidak berhenti pada megahnya ruangan acara atau tuntasnya materi dari KemenPPPA RI. Ujian sesungguhnya ada pada apa yang terjadi setelah 120 peserta kembali ke komunitasnya. Bisakah kader Posyandu menjelaskan bahaya gawai saat makan dengan bahasa yang renyah kepada para ibu muda? Bisakah para guru menyelaraskan aturan penggunaan teknologi dengan orang tua murid?

Mendidik anak di era digital memang menuntut positive parenting yang adaptif: bukan melarang total teknologi, melainkan hadir mendampingi dan menetapkan batasan yang sehat. Momen Hari Anak Nasional 2026 di Mimika harus menjadi alarm pengingat bagi kita semua. Menyelamatkan generasi masa depan Mimika dari stunting berarti siap mematikan gawai sejenak, duduk bersama di meja makan, dan mengembalikan hangatnya tatap muka dalam keluarga.

Iklan

Info Dinkes Mimika