WANIA – Puskesmas Wania terus menunjukkan komitmennya dalam menurunkan angka masalah gizi melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang komprehensif.
Penanggung Jawab Program Gizi, Yuliania Bubagar pada Rabu,(10/6/2026) kepada wartawan papuamctv.com mengatakan, ini tidak hanya berfokus pada perbaikan status gizi balita dan ibu hamil, tetapi juga mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi lokal dan kolaborasi lintas sektor.
Sinergi Pangan Lokal untuk Kesehatan
Program PMT di Puskesmas Wania dirancang untuk memberikan intervensi spesifik bagi kelompok sasaran yang membutuhkan, yakni balita dengan kategori gizi kurang, berat badan kurang, balita dengan kondisi 2T (berat badan tidak naik dua kali berturut-turut), serta ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK).
Keunggulan utama dari program ini adalah pemanfaatan bahan pangan lokal seperti pisang, keladi, dan petatas. Puskesmas Wania bekerja sama dengan pelaku UMKM setempat untuk menyerap bahan baku langsung dari para pedagang di pasar tradisional.
"Kami berdayakan pangan lokal. Kerjasama dengan UMKM ini secara tidak langsung juga memberikan manfaat ekonomi bagi mama-mama yang berjualan di pasar," ujar Yuliania Bubagar.
Mekanisme Intervensi Terukur
Pemberian makanan dilakukan dengan skema enam kali kudapan dan satu kali makan lengkap per hari. Setiap menu telah diperhitungkan secara cermat kandungan kalori dan proteinnya untuk memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi.
Durasi intervensi disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masing-masing sasaran:
· Balita 2T: 14 hari pendampingan.
· Balita Berat Badan Kurang: 28 hari pendampingan.
· Balita Gizi Kurang: 56 hari pendampingan.
· Ibu Hamil KEK: 120 hari pendampingan berkelanjutan.
Setiap sasaran dipantau secara ketat melalui pengawasan harian dan evaluasi mingguan. Jika tidak ditemukan progres yang signifikan atau terdapat indikasi masalah kesehatan lebih lanjut, tim gizi akan segera melakukan rujukan ke Puskesmas untuk mendapatkan tindak lanjut medis.
Kolaborasi Lintas Sektor untuk Penanganan Stunting
Keberhasilan program ini diperkuat dengan adanya kolaborasi lintas sektor. Selain dukungan dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Puskesmas Wania aktif menjalin kemitraan strategis. Setelah sukses dengan dukungan CSR Bank BRI pada tahun sebelumnya, kini Puskesmas Wania berkolaborasi dengan Dharma Wanita Kabupaten dalam program "Anak Asuh".
Dalam program ini, empat anak penderita stunting—dua di wilayah Nawarihi dan dua di Kamorojaya—mendapatkan perhatian khusus dengan menu khusus yang disusun langsung oleh tim gizi Puskesmas untuk masa pemantauan tiga bulan ke depan.
"Harapan saya, anak-anak yang terkontak dengan PMT ini menunjukkan perubahan status gizi yang lebih baik. Mereka adalah generasi emas, penerus estafet bangsa yang harus kita jaga sejak dini," tutup Yuliania.
Melalui pendekatan yang terintegrasi, Puskesmas Wania optimistis bahwa upaya ini akan menjadi langkah nyata dalam menciptakan generasi masa depan yang lebih sehat, cerdas, dan tangguh di wilayah Wania.




